Sabtu, 09 Maret 2013

Buku Setoran Hafalan Juz 'Amma

Berikut ini adalah buku setoran hafalan juz 'Amma yang saya susun untuk memudahkan dalam menghafal dan mengajar hafalan Juz 'Amma.




link download

Contoh cara menggunakan buku ini:
  1. Santri menyetor bacaan Ayat pertama surat An-Naba. Bila bacaannya telah benar dan lancar maka diparaf pada kolom "Sorog/Setor Baca" pada baris pertama.Bagi santri kecil yang belum bisa membaca Al-Qur'an pun bisa, dengan disorog hafalan, yaitu kita membacakan dan satri tersebut mendegnarkan dan mengikuti samapi lancar.
  2. Setelah itu santri membaca sendiri ayat tersebut sebanyak 20 kali.
  3. Kemudian santri menyetorkan hafalannya dengan membacakan hafalan ayat tersebut.
  4. Penerima setoran memperhatikan dan menilai santri tersebut. Bila santri belum hafal, maka santri harus mengulangi lagi membaca ayat tersebut, walaupun tidak harus 20 kali. Bila santri sudah hafal tapi tanpa tajwid dan bacaannya masih belum lancar, maka dapat diparaf pada kolom "Sekedar Hafal", pada baris ayat pertama tersebut. Bila sudah lancar tapi masih belum bertajwid, maka paraf juga pada kolom "lancar". Dan bila sudah lancar dan tajwid serta makhorijul hurufnya sudah baik, maka paraf juga pada kolom "Tajwid". 
  5. Bila santri minimal telah mendapatkan paraf "Sekedar Hafal" maka santri boleh melanjutkan ke baris berikutnya atau mengulang sampai lancar dan tajwid, sesuai dengan umur dan kemampuan santri tersebut.
  6. dan seterusnya mengikuti petunjuk pada kolom surat dan ayat.
Semoga bermanfaat. Kritik dan saran saya nantikan agar buku ini menjadi lebih baik lagi.

Asma'ul Husna

Lirik Nasyid Asma'ul Husna - Hadad Alwi, dengan sedikit penyesuaian...
 
Yaa ALLOH Yaa Rohmaan..
Yaa Rohiim Yaa Malik..
Yaa Qudduus Yaa Salaam..
Yaa Mu’min Yaa Muhaimin..

Yaa ‘Aziz Yaa Jabbaar..
Yaa Mutakabbir Yaa Kholiq..
Yaa Baari’ Yaa Mushowwir..
Yaa Ghoffaar Yaa Qohhaar..

Yaa Wahhaab Yaa Rozzaaq..
Yaa Fattaah Yaa ‘Aliim..
Yaa Qoobidh Yaa Baasith..
Yaa Khoofidh Yaa Roofi’..

Yaa Mu’izz Yaa Mudzill..
Yaa Samii’ Yaa Bashiir..
Yaa Hakam Yaa ‘Adl..
Yaa Latiif Yaa Khobiir..

Yaa Haliim Yaa ‘Adhiim..
Yaa Ghofuur Yaa Syakuur..
Yaa ‘Aliyy Yaa Kabiir..
Yaa Hafiizh Yaa Muqiit..

Yaa Hasiib Yaa Jaliil..
Yaa Kariim Yaa Roqiib..
Yaa Mujiib Yaa Waasi’..
Yaa Hakiim Yaa Waduud..

Yaa Majiid Yaa Baa’its..
Yaa Syahiid Yaa Haqq..
Yaa Wakiil Yaa Qowiyy..
Yaa Matiin Yaa Waliyy..

Yaa Hamiid Yaa Muhshii..
Yaa Mubdi’ Yaa Mu’iid..
Yaa Muhyii Yaa Mumiit..
Yaa Hayyu Yaa Qoyyuum..

Yaa Waajid Yaa Maajid..
Yaa Waahid Yaa Shomad..
Yaa Qoodir Yaa Muqtadir..
Yaa Muqoddim Yaa Mu’akhkhir..

Yaa Awwal Yaa Aakhir..
Yaa Zhoohir Yaa Baathin..
Yaa Waali Yaa Muta’aali..
Yaa Barr Yaa Tawwaab..

Yaa Muntaqim..
Yaa ‘Afuww Yaa Ro’uuf..
Yaa Ahad..
Yaa Maalikul Mulki
Yaa Dzul Jaalali wal Ikroom..

Yaa Muqsith Yaa Jaami’..
Yaa Ghoniyy Yaa Mughnii..
Yaa Maani’ Yaa Dhorr..
Yaa Naafi’ Yaa Nuur..

Yaa Haadi Yaa Badii’..
Yaa Baaqi’ Yaa Waarits..
Yaa Rosyiid Yaa Shobuur..
Yaa ALLOH Yaa ALLOH..

Yaa ALLOH Yaa ALLOH..
Yaa ALLOH Yaa ALLOH..
Yaa ALLOH Yaa ALLOH..
Yaa ALLOH Yaa ALLOH..

Yaa ALLOOOHHH.........

Penyikapan Syariat - Hakikat


Mungkin kita sering bingung ketika mempelajari Islam kemudian kita menemukan hal-hal yang seolah-olah bertentangan. Misalnya, kita mengetahui bahwa orang2 yang beriman, beramal sholeh dan tidak menyekutukan ALLOH maka dia akan dimasukan ke Surga. Dan orang2 yang kafir, durhaka, berdosa dan menyekutukan-NYA akan dimasukkan ke Neraka. Sementara kita juga mengetahui bahwa masuk Surga atau Nerakanya seseorang itu sudah ditetapkan oleh-NYA sebelum kita lahir.

Begitu juga dengan kasus bencana alam. Dimana satu sisi dalam Al-Quran menyebutkan bhw bencana itu akibat perbuatan manusia. Sedangkan pada ayat lain menyebutkan bhw itu sudah tercatat dalam kitab (sudah ditetapkan).

Kasus lain ketika kita mengetahui bahwa dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa yang menurunkan air dari langit adalah ALLOH, sedangkan kita melihatnya air itu turun karena adanya gaya gravitasi bumi.

Kasus lain ketika kita maksiat. Satu sisi maksiat ini adalah kesalahan kita, sedangkan disisi lain maksiat kita sudah ditakdirkan.

Kasus lainnya lagi adalah tentang rezeki, dimana satu sisi kita mengetahui bahwa rezeki itu akan kita dapatkan jika kita bekerja/usaha. Sementara sisi lain rezeki itu sudah ditetapkan dan diatur oleh-NYA.

Bingung kan? Mana yang benar? Seolah-olah hal ini seperti yang bertentangan. Bahkan tidak jarang para ulama sampai bertengkar karena mempertahankan pendapatnya dan menyalahkan pendapat yang lainnya yang berbeda.

Dan masih banyak lagi kasus-kasus lainnya yang serupa, yang sebenarnya kuncinya sangat sederhana. Kita tinggal merubah pertanyaan kita dari yang asalnya “Mana yang benar?” menjadi “Bagaimana menyikapinya?”. Memahami ilmu itu harus membuahkan PENYIKAPAN, bukan untuk membuahkan PENGAKUAN.

Salah satu metode penyikapan masalah2 di atas yang sederhana dan umum adalah: “Kita tentukan hal2 tersebut termasuk sisi SYARIAT atau sisi HAKIKAT, kemudian kita sikapi sesuai pada tempatnya masing-masing dan jangan sampai tertukar”.

Manusia dlm menyikapi sebuah realita kehidupan dan masalahnya dia dikaruniai kemampuan untuk memandang dari dua sisi, yaitu sisi SYARIAT dan sisi HAKIKAT.

Sisi SYARIAT adalah realita yg nampak dan dapat difahami oleh indera lahiriah kita, misalnya: gerakan fisik, bacaan, buah apel yg jatuh dari pohon, peristiwa alam, sebab-akibat, dsb.

Sedangkan sisi HAKIKAT adalah realita yg sebenar-benarnya yg tdk bisa difahami oleh indera lahiriah kita, misalnya: takdir, af'al (perbuatan/tindakan) ALLOH, dsb.

Kita harus pandai2 menempatkan masing2 sisi tersebut pada tempatnya masing2 dan jangan sampai tertukar.

Sisi SYARIAT tempatnya di dalam AKTIVITAS kehidupan kita.

Sedangkan sisi HAKIKAT tempatnya di dalam HATI kita.

Dan jangan sampai tertukar.

Misalkan dalam kasus REZEKI:

Satu sisi kita memahami bahwa rezeki akan kita dapatkan jika kita bekerja.

Inilah sisi SYARIAT dari rezeki tersebut yg mana penyikapan hal ini harus ditempatkan pada AKTIVITAS kita.?Artinya ketika kita membutuhkan rezeki maka kita harus bekerja dalam rangka beribadah kpd-NYA.?Tentu saja secara SYARIAT ada aturannya untuk mendapatkan rezeki itu, antara lain hrs yg halal, hny sebatas memenuhi kebutuhan, dsb.

Inilah yg dimaksud menempatkan penyikapan pada AKTIVITAS kita, yaitu fisik/ fikiran kita bekerja. Dan tentunya harus sesuai dgn aturan SYARIAT.

Di sisi lain kita juga memahami bahwa rezeki itu sudah ada yg mengatur.

Inilah sisi HAKIKAT dari rezeki tersebut yg mana penyikapannya hrs ditempatkan dalam HATI.

Artinya HATI kita harus ridho dan ikhlas jika kita mendapatkan rezeki yg tdk sesuai dgn harapan kita.??Krn menyadari betul bahwa sekeras apapun bekerja itu tdk akan bisa menjamin rezeki yg didapat akan melimpah.?Krn rezeki itu memang DIA yg mengaturnya.?Dan dia yakin bhw yg DIA tetapkan itu pasti yg terbaik, krn setiap ketetapannya itu lahir dari Rohman-Rohim-NYA (kasih-sayang-NYA).?Sehingga HATI kita akan ikhlas dan ridho bahkan bersyukur jika kita mendapatkan rezeki walaupun sedikit.

Dan HATI kita juga tidak akan takabur dan kikir jika kita mendapat rezeki yg besar.?Krn benar2 sadar bahwa rezeki itu pemberian-NYA, dimana disana ada hak2 orang lain di dalamnya.?Ketika dalam AKTIVITAS bekerjanya pun niat di dalam HATI-nya bukan untuk mendapatkan rezeki, tp ikhlas krn ALLOH.?Itulah penempatan penyikapan sisi HAKIKAT dalam HATI, yaitu ikhlas, ridho, syukur, tdk takabur, tdk kikir.

Jangan terbalik, kita memahami HAKIKAT lalu menempatkannya dlm AKTIVITAS kita, bukan dalam HATI kita.??Misalnya ketika memahami bahwa rezeki itu sudah ada yg mengaturnya dan sekeras apapun kita bekerja dan berusaha maka hal itu tdk akan mampu menjamin rezekinya, dan tanpa usaha pun kalau memang sudah ditentukan dpt rezeki maka pasti rezeki akan datang. Kemudian dia berfikir, “jika begitu buat apa kita susah2 bekerja keras, toh kalau memang ALLOH menetapkan rezeki kita maka pasti akan kita dapatkan walaupun tanpa bekerja”.?Ini adalah penyikapan yg keliru.

Sekalipun pemahaman hakikatnya benar, namun bila penyikapannya seperti itu berarti dia tdk mensyukuri potensi fisik dan potensi berfikir yg telah ALLOH berikan sebagai sarana kita untuk beribadah kpd-NYA.

Begitupun sebaliknya, ketika kita memahami SYARIAT namun penyikapannya dimasukkan ke dalam HATI.?Misalkan kita memahami bhw untuk mendapatkan rezeki kita hrs bekerja.?Lalu dia menempatkan pemahaman ini ke dalam hatinya, sehingga yg difikirkannya sehari2 adalah bekerja dan bekerja untuk mendapatkan rezeki.?Dalam keadaan seperti ini dia akan melupakan sisi hakikatnya bhw rezeki ALLOH yg mengatur.?Sehingga ketika rezeki yg didapat tdk sesuai dgn keinginannya maka dia akan stres dan frustasi bahkan putus asa.

Begitupun ketika dia mendapatkan rezeki yg melimpah dia akan menisbatkan rezeki yg diperolehnya adalah hsl kerja kerasnya selama ini sehingga dia menjadi takabur, dan dia juga lupa bhw sebenarnya yg memberikan rezeki itu adalah ALLOH sehingga menyebabkan dia menjadi kufur nikmat dan kikir.

Motivasi kerjanya pun akan sangat tinggi. Karena dia bekerja bukan karena mengharapkan rezeki, tapi dia bekerja karena ingin memberikan yang terbaik untuk ALLOH. Mensyukuri semua potensi yang telah dikaruniakan kepadanya. Mensyukuri potensi fisik, potensi waktu, potensi fikiran, termasuk mensyukuri potensi sunnatuLLOH sebab-akibat yang telah ALLOH rancang seperti bila bekerja maka akan mendapat gaji/upah/untung.

Berbeda dengan orang yang motivasi kerjanya karena selain ALLOH, dia akan semangat kerja jika gaji besar sementara jika gaji kecil dia malas bekerja. Dia akan semangat kerja ketika ada bos atau pengawas, tapi ketika tidak ada dia malas-malasan. Dia akan semangat kerja ketika tau usahanya akan untung besar, tapi ketika tau usahanya kurang menguntungkan dia akan malas bekerja.

Sekalipun pemahaman SYARIAT-nya benar namun dalam menempatkannya salah maka penyikapannya tdk lagi bernilai ibadah dalam pandangan ALLOH. Walaupun ada kalanya penyikapan SYARIAT oleh HATI ini dimaklumi oleh ALLOH, karena tidak semua orang mampu memfungsikan sudut pandang HAKIKAT ini.

Itu adalah satu contoh penerapan konsep penyikapan syariat-hakikat. Pada kasus-kasus lainnya yang serupa, tinggal kita terapkan saja seperti contoh di atas. Sekali lagi kuncinya adalah: tentukan hal itu masuk ke sisi mana, SYARIAT atau HAKIKAT; kemudian sikapi sesuai pada tempatnya masing-masing dan jangan sampai tertukar.

Semoga bermanfaat. Wallohu’alam bishowab.

Modul Pesantren Romadhon 1433 - Romadhon Bersama Khulafaur Rosyidin

Modul Materi Kegiatan Pesantren Romadhon Tahun 1433H yang bertemakan "Romadhon bersama Khulafaur Rosyidin"..

Modul Pesantren Romadhon 1433H - Romadhon Bersama Khulafaur Rosyidin by 'Aam' Hamdani Fajar

Selasa, 03 Januari 2012

Untuk Apa Kita Hidup..???


BismillahirRohmanirRohim.. Alhamdulillahirobbil'alamin.. Allohumma sholi 'ala Muhammad wa 'ala 'alihi wa shohbihi ajma'in.Asyhadualla ilaaha illalloh.. wa Asyhaduanna Muhammadar Rosululloh..  Amma ba'd..

Untuk apa kita hidup..??
Banyak yang mengatakan hidup itu untuk menjadi orang kaya raya. Banyak pula yang mengatakan hidup itu untuk menjadi terkenal. Tidak sedikit yang mengatakan hidup itu untuk mencapai kesuksesan karir, kesuksesan bisnis dan banyak uang. Sering kita mendengar orang yang mengatakan bahwa kesuksesan hidup itu itu adalah bisa mencapai semua keinginannya. Bahkan ada juga manusia yang tidak beriman pada hari akhir mengatakan, "Hidup itu hanya sekali, maka nikmati hidup sepuas-puasnya".

Benarkah untuk itu kita hidup?
Sebenarnya untuk apa kita hidup..???? 

Sebuah pertanyaan yang sederhana, namun sangat penting untuk dapat dijawab dengan benar. Karena jika kita tidak mengetahui untuk apa kita hidup, atau kita mempunyai tujuan dan cita-cita yang salah dalam hidup, maka sia-sialah hidup kita ini. 

Jika ada seorang yang membuat kue yang sangat enak dan spesial untuk keluarganya, tapi ternyata setelah kue itu jadi oleh keluarganya hanya dijadikan pajangan saja dan tidak dimakan seperti tujuan sang pembuat kue itu. Maka kue itu menjadi sia-sia saja. Jika kue itu hanya untuk pajangan saja, maka tidak perlu membuat kue yang beneran. Seperti itulah sia-sianya hidup kita jika kita tidak tahu untuk apa kita hidup atau mempunyai tujuan dan cita-cita yang salah dalam hidup.

Lalu bagaimana caranya agar kita mendapatkan jawaban yang benar untuk apa kita hidup..???

Agar dapat mengetahui dengan benar 'untuk apa kita hidup?', maka tentunya kita harus menanyakan pertanyaan ini kepada yang telah menjadikan kita hidup. Kepada yang telah menciptakan kita. Lalu siapakah yang telah menjadikan kita hidup? Siapa lagi kalo bukan ALLOH swt Sang Maha Pencipta. Sesungguhnya tanpa ditanyapun DIA sudah memberitahukan kepada kita tentang tujuan penciptaan manusia di dalam Al-Qur'an.
ALLOH swt berfirman:

"Dan tidaklah Kami menciptakan Jin dan Manusia kecuali hanya untuk mengabdi kepada-KU"  (QS. Adz-Dzariyaat:56)

Maka inilah jawaban yang benar dari pertanyaan kita tadi. ALLOH swt menciptakan kita ini hanya untuk mengabdi kepada-NYA, maka tujuan hidup kita pun harus sesuai dengan tujuan Sang Pencipta kita. yaitu: hanyalah untuk menjadi seorang hamba, yang mengabdi hanya kepada ALLOH saja. Itulah yang selayaknya kita jalani dalam hidup ini baik lahir maupun batin. Dan ini jugalah yang selayaknya menjadi tujuan dan cita-cita tertinggi yang harus dimiliki setiap manusia. Jika tidak mengabdi hanya kepada ALLOH, maka dia tidak layak disebut manusia walaupun fisiknya manusia.

Setiap manusia hakikatnya adalah hamba ALLOH. Namun tidak semuanya diakui oleh ALLOH sebagai hamba-NYA. Karena dalam kehidupannya masih jauh dari mengabdi kepada ALLOH. Secara sederhana ada tiga unsur utama bahwa seseorang itu dikatakan mengabdi kepada ALLOH, yaitu:
1. Mentaati seluruh perintah ALLOH;
2. Menjauhi seluruh larangan ALLOH;
3. Ridho dengan ketetapan-NYA.

Jika ketiga hal diatas sudah diterapkan dalam seluruh kehidupan kita baik lahir maupun batin, maka kita sudah dapat dikatakan sebagai hamba ALLOH yang sesungguhnya. Sudahkah kehidupan kita sehari-hari dipenuhi dengan tiga hal di atas? Atau justru sebaliknya: malah melanggar larangan-NYA, melakukan hal yang dilarang-NYA dan tidak ridho dengan ketetapan-NYA. Na'udzubillah...
Ada yang mengatakan bahwa untuk melaksanakan tiga hal diatas dalam seluruh kehidupan lahir batin adalah hal yang mustahil. Perlu dicatat bahwa itu bukanlah hal yang mustahil. Di dalam Al-Qur'an ALLOH banyak memberikan contoh-contoh seorang hamba ALLOH dari manusia biasa yang bukan Nabi dan Rosul. Artinya itu juga bukan hal yang mustahil bagi kita sebagai manusia biasa yang bukan nabi atau rosul. Jika seseorang masih berpikiran bahwa hal itu mustahil, maka sudah dapat dipastikan bahwa dia tidak akan berhasil menjadi hamba ALLOH yang sesungguhnya. Jika sesuatu dianganggap mustahil maka boro-boro akan diperjuangkan, diusahakan pun tidak. Sedangkan untuk menjadi hamba ALLOH yang sesungguhnya diperlukan perjuangan dan kesungguhan dan juga keistiqomahan.

Mungkin untuk menjadi seorang hamba yang seluruh hidupnya lahir batin hanya mengabdi kepada ALLOH, kita masih jauh. Oleh karena itu mari kita jadikan cita-cita tertinggi dalam hidup kita adalah untuk menjadi hamba ALLOH yang sesungguhnya. Mari kita jadikan tujuan hidup yang paling utama kita adalah menjadi hamba ALLOH yang sebenar-benarnya. Mari kita jadikan mengabdi kepada ALLOH adalah visi hidup kita. Jika sudah begitu, maka seluruh kehidupan kita akan mengarah kesana. Dan dengan izin ALLOH mudah-mudahan kita semua berhasil menjadi hamba ALLOH yang sebenar-benarnya dalam pandangan ALLOH swt. Amin.


Minggu, 16 Oktober 2011

Lir-ilir

Karya Sunan Kalijaga dan Sunan Ampel

Lir-ilir.. Lir-ilir..
Tandure wus sumilir..
Tak ijo.. royo-royo..
Tak senggo kemanten anyar..
Tak senggo kemanten anyar..

Bocah angon.. bocah angon..
Penekno blimbing kuwi..
Lunyu-lunyu.. penekno..
Kanggo mbasuh dodot iro..
Kanggo mbasuh dodot iro..


Dodot iro.. dodot iro..
Kumitir bedah ing pinggir..
Dondomono.. Jlumatono..
Kanggo sebo mengko sore..
Kanggo sebo mengko sore..

Mumpung padang rembulane..
Mumpung jembar kalangane..
Yo surak oo...
Surak hiyooo...

SholatuLLOH.. salamuLLOH..
'Ala Thoha Rosulillah..
SholatuLLOH.. salamuLLOH..
'Ala yasin habibillah..
'Ala yasin habibillah..

SholatuLLOH.. salamuLLOH..
'Ala Thoha Rosulillah..
SholatuLLOH.. salamuLLOH..
'Ala yasin habibillah..
'Ala yasin habibillah..

Tawasalna bibismillah..
Wabil Hadi Rosulillah..
Wakulli mujahidilillah..
Bi ahlil badri yaa ALLOH..
Bi ahlil badri yaa ALLOH..

SholatuLLOH.. salamuLLOH..
'Ala Thoha Rosulillah..
SholatuLLOH.. salamuLLOH..
'Ala yasin habibillah..
'Ala yasin habibillah..

Ilaahi sallimil ummah..
Minal aafati wa niqmah..
Wamin hamin wamin ghummah..
Bi ahlil badri yaa ALLOH..
Bi ahlil badri yaa ALLOH..

SholatuLLOH.. salamuLLOH..
'Ala Thoha Rosulillah..
SholatuLLOH.. salamuLLOH..
'Ala yasin habibillah..
'Ala yasin habibillah..

Lir-ilir.. Lir-ilir..
Tandure wus sumilir..
Tak ijo.. royo-royo..
Tak senggo kemanten anyar..
Tak senggo kemanten anyar..

Bocah angon.. bocah angon..
Penekno blimbing kuwi..
Lunyu-lunyu.. penekno..
Kanggo mbasuh dodot iro..
Kanggo mbasuh dodot iro..

Dodot iro.. dodot iro..
Kumitir bedah ing pinggir..
Dondomono.. Jlumatono..
Kanggo sebo mengko sore..
Kanggo sebo mengko sore..

Mumpung padang rembulane..
Mumpung jembar kalangane..
Yo surak oo...
Surak hiyooo...